Saya pikir, fotografi itu fungsi utamanya adalah untuk komunikasi, dari fotografer buat pelihat fotonya. Selama ini saya masih sibuk dengan urusan teknis. Momen, sudut potret, komposisi, pencahayaan, warna, bentuk & pola, fokus (yang terjemahan Inggrisnya saya singkat jadi Moment. Angle .Composition. Exposure. Tone. Pattern. Focus.). Tentu saja ada teknik khusus seperti panning, flash, pemakaian grain, dan yang lainnya.
Mungkin karena kelamaan berkutat di teknis ini, saya jadi merasa hampa, dull, bosen. Saya udah mesti beranjak ke ranah ide, dimana ide yang saya temui berdasarkan lingkungan saya mendikte foto apa yang saya buat beserta pengaturan teknis yang dibutuhkannya.
Saya ga mau memotret cuma buat menyampaikan pesan : "saya bisa bikin foto yang bagus loh!" Kemudian saya mencari obyek yang bagus untuk difoto dan mengatur hal teknisnya sedemikian rupa hingga tampak bagus.
Saya mau berjalan gontai di suatu tempat, menjelajahinya, menghayati suasana yang ada, merasakan kesan apa yang paling menyentuh saya disana, lalu memutuskan "roh" apa yang mau saya tangkap lewat kamera saya, pesan apa yang mau saya bawa ke pelihat foto saya. Bila saya telah menemukan "roh" ini, baru saya mulai mengatur hal teknis. Mulai berjongkok, mondar-mandir, mencari simbol-simbol atau obyek penarik perhatian, menanti momen/cahaya, bereksperimen dengan flash, dan sebagainya. Kemudian barulah saya menekan shutter "penangkap roh" saya.
Tentang ide yang mau saya tangkap, saya mau ide tersebut membangun pelihatnya, entah dengan pesan moral, kesadaran tentang indahnya alam, dan sebagainya. Saya ga mau foto saya menangkap mata saja, tapi saya mau ia dapat menangkap hati. Karena kekekalan ada di hati, bukan di penglihatan.
Saya ga mau bertujuan cuma untuk menghasilkan foto yang bagus dilihat, saya mau membuat pelihat foto saya terbuka hatinya tentang alam dan kehidupan. Ini panggilan saya dalam fotografi.